Ikhlas adalah rahasia antara Allah SWT dengan hamba-Nya dan dalam memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadiatau balasan apapun.
Seseorang yang ikhlas akan memalingkan hanya kepada Allah dengan hatinya dan hanya akan mengharapkan keridhoan Allah dalam setiap langkah, perbuatan, ucapan dan di setiap do'anya.
Pernah saya bertanya kepada teman apakah beliau ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya selama ini?
saya ikhlas dalam menjalankan semua yang saya lakukan bahkan jika digaji kecilpun dia akan ikhlas menjalankannya karena kebetulan kerjaan yang dia lakukan itu sesuai dengan yang diinginkannya. kemudian saya melanjutkan pertanyaannya : jika kerjaan itu tidak di gaji apakah sampeyan masih ikhlas menjalaninya...
dia diam sejenak sambil becanda memutar balik pertanyaan saya : jika bapak sekarang tidak digaji 1 bulan aja, apakan anda mau jalani pekerjaan itu?
saya sempat berfikir untuk coba berkata ya...tapi ketika saya teringat keluarga saya istri dan anak saya mau saya kasih makan apa?
akhirnya saya menjawab pertanyaan balik teman saya itu dengan apa yang saya pikirkan sambil ketawa dan tersenyum padanya....kemudian saya lanjutkan bagaimana dengan bapak? ikhlas klo ga di gaji 1 bulan aja?
ha ha ha ha....sambil tertawa dia juga menjawab sebenarnya kerjaan yang kita lakukan itu adalah suatu kewajiban dalam kita beribadah kepada Allah untuk menafkahi anak istri, sedangkan gaji merupakan hak yang kita dapatkan dari hal itu. jika ada yang mau mengurangi hak yang seharusnya kita dapat ya silahkan aja kata beliau, toh nanti akan berurusan sama Allah...
aku renung sejenak benar apa yang dikatakan temanku itu. Nah dimana keikhlasan itu berada?
namun yang perlu diyakini bahwa keikhlasan itu umurnya tidak kekal. bisa jadi orang yang ikhlas dalam ibadahnya bertahun-tahun namun ibadahnya dihancurkan oleh riya dikemudian hari. maka manusia diwajibkan untuk berhati-hati menjalaninya.
Hal ini juga diingatkan oleh Allah SWT dalam Al Baqarah (2) ayat 264 :
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."
hmmm...ikhlas ??? hanya Allah dan hamba-Nya yang tahu...Wallahu alam bi showaf...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar